MAKMALBAR AOH - MiLYS [Makan Malam Bareng After Office Hour] RM pondok tyas - kalibata ( Depan TMP Kalibata) setiap hari rabu mulai jam 19.00 - Midnight. |
| Chapter Selatan Goes to Bengkulu |
|
| Thursday, 13 January 2011 10:30 |
|
Salam GASPOLL,REMDOLL…..!!! Akhirnya setelah sekian lama direncanakan tibalah saat pembuktian.Touring Subsidi De’Bengkulu, itulah sebutan kami tuk perjalanan yg sudah kami lakukan…!! Berawal dari sebuah budaya dan tugas wajib yg kami serukan di chapter selatan tuk para PIC yg menjabat, terciptalah ‘touring subsidi’ yg dimana awalnya pada tahun 2009 dgn tujuan Yogyakarta dgn 16 peserta (masing2 mendapat subsidi 150rb) dan sekarang dgn tujuan Bengkulu!! pencarian sponsorpun kami mulai 1 bln sebelum hari ‘H’ dan Alhamdulillah kami dapatkan di menit2 terakhir dgn dana kas yg kami punya dan tambahan sponsor terkumpulah dana total Rp.2.600.000 yg mana kami bagikan ke-8 peserta tour De’Bengkulu @325rb (dibagikan bertahap). Hari pelaksanaanpun tiba, dan kami sepakat tuk memulai perjalanan dikopdar pusat senayan dimana segala restu dan wejangan dari pusatpun kami terima. Tepat jam 10.30 kamipun memulai perjalanan hingga sesampainya di Merak sekitar pukul 1.30 pagi. Ditengah perjalanan kami bertemu dgn beberapa rombongan ‘hornet’ & ‘hvc’, tak lupa kami haturkan salam khas MiLYS Selatan yaitu beberapa ‘geberan’ dan ‘guntingan’ ke mereka (uppsss…,hehehehe)!! tak terasa 2 jam pun terlewati dgn cepat diruang VIP, landing di bakauheni pun langsung kami lalui tanpa halangan yg berarti, berhubung cacing2 diperut sudah memanggil, bergegaslah kami mencari sarapan sambil menunggu konfirmasi dari Scorpio Lampung Club yg sudah kami kontek sebelumnya. waktupun berlalu sampai akhirnya kamipun ‘diculik’ temen2 SLC ke salah satu basecamp mereka, tawa canda dan perkenalanpun kami lakukan dgn cepat hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan dgn bantuan pengawalan SLC hingga sampai di jalan mengarah ke kota Agung. lepas dari pengawalan bergegaslah kami melakukan perjalanan dgn ritme GASPOLL REMDOLL ala Selatan hingga kawasan hutan lindung pertama. disana kami dapat masukan dari warga setempat agar berhati2 karena masih banyak ‘pedro2 liar’ yg berkeliaran (baca:binatang liar,hehehe…!!). Hutan pertamapun menyambut kami dgn jalur khas Sumatra yg tentunya berlubang, berkubang, berantakan dll. Krui, itulah nama daerah yg juga menyambut kami setelah melewati hutan lindung pertama. Agak terkejut kami dibuatnya karena kami bertemu salah satu member Milys bro Rey yg juga sedang melakukan perjalanan ke pantai krui bersama dgn tmn2 kaskuser. Sedikitnya waktu dan target membuat kami melakukan trik2 yg sudah kami kuasai yaitu ‘kebut2an’. Jalur yg sepi dan panjang kami ‘hajar’ dgn kecepatan 130 kpj, gerombolan ‘biang’ sapi yg lalu lalang membuat kami lebih berhati2 hingga di kawasan hutan lindung ke-2. Hujanpun menyambut kami dgn lebatnya hingga sampai di perbatasan Bengkulu (±200km), jas hujan yg kami pakai pun tidak menolong banyak karena kami tetap basah luar dalam. Ditengah perjalanan di dalam kawasan hutan lindung (±pukul 21.00) kami sempat mendapatkan ancaman dimana menurut pengakuan rombongan di barisan depan terdapat 2 motor (dengan 3orang), dibelakang 1 motor (mengikuti dgn menjaga jarak) dan di tengah rombongan terdapat 2orang yg bersembunyi dibalik tumpukkan daun yg dibawa menggunakan keranjang di motor. Alhamdulillah dgn kuasa-Nya dan dgn formasi yg kami buat akhirnya mereka urung melakukan niat jahatnya. Kondisi badan sangat lelah karena menghindari lubang2 yg luar biasa besar dan rusak akhirnya kami putuskan tuk istirahat di polsek maje di perbatasan Lampung dan Bengkulu. Setelah kami cek ternyata tak ada satupun anggota yg piket dan kamipun ‘ngejoprak’ dgn gaya masing2 persis didpn rumah dinas kapolsek. Tak lama kami istirahat tiba2 seluruh lampu mendadak padam hingga merem atau melekpun tidak terasa beda. Lagi2 kami harus bersiaga karena memang kami tidak bs melihat apapun dgn jarak lebih dari setengah meter.kamipun bertahan dengan menggunakan hanya 1 lampu senter dan beberapa lampu handphone, udara dingin dari hujan membuat beberapa peserta melakukan ‘sekresi’ (baca:pipis). Hal menegangkanpun kembali terjadi, dmn kami menemukan seekor ular belang (putih-kuning) keluar dari persembunyiannya mengarah ke motor kami.tanpa komando jurus ‘MUSTIKApun’ (MUSti KAbur) kami lakukan serentak hingga kami menemukan sebuah warung 24 jam yg ada di bintuhan.setelah berkoordinasi dgn teman2 Bengkulu Scorpio Community kamipun diarahkan ke rumah ex ketua bro Sistrian BSC 002. Singkat cerita kamipun memutuskan tuk menginap di sebuah hotel berbintang 7 terdekat dgn harga perkamarnya 50rb hingga keesokan hari tiba. Sarapan dan foto2 kami lakukan dgn cepat karena kami molor dari target yg ada. GASSPOLL REMDOLL kembali kami lakukan sampai tiba2 ada pohon tumbang persis dihadapan kami, semua pesertapun melakukan adegan ‘stoppie’ (lebay.com). Membutuhkan lebih dari 10 orang tuk menggotong pohon hingga kepinggir jalan dan kamipun melanjutkan perjalanan. Tak lama berselang akhirnya kami bertemu dgn team penjemputan dari BSC, jamuan kopipun lansung kami dapatkan dilokasi, dan sebuah instruksi kami dapatkan untuk segera mengisi bensin karena di bengkulu sedang krisis bensin yg menyebabkan antrian lebih dari 500 m hampir ditiap SPBUnya. Rombonganpun semakin banyak dgn adanya member2 BSC yg gabung mengawal kami ke sebuah restoran padang, lagi2 kamipun dijamu. Ditengah ‘pertempuran’ kami dgn rendang, ayam bakar, udang dllnya sebuah sosok tinggi besarpun menghampiri kami dan ternyata paketua BSC bro toni datang menyambut. Sedikit berbasa-basi kami langsung dibawa ke sebuah penginapan yg memang sudah tuan rumah booking special untuk kami. 3 buah kamar ber AC dgn kamar tidur diluar dan kamar mandi didalam (lho kok??) membuat kami merasa nyaman. Hanya 15 menit kami disana kamipun sudah merasa tak sabar tuk berkeliling kota Bengkulu, dgn dikawal mobil paketua dan beberapa anggota BSC kamipun dibawanya langsung menuju benteng Marborough yg terkenal itu, tapi apa daya ternyata sedang ada festival tabot (acara khas warga Bengkulu) sehingga benteng tak dapat kami kunjungi.tak habis akal rekan2 BSC langsung mengajak kami ke tpt kopdarnya di tepian pantai panjang, setelah sampai kamipun bergegas ‘NARSIS’ berfoto2. Tak terasa malampun tiba dan akhirnya tmn2 BSC langsung mengajak kami makan malam bersama disebuah warung makan yg biasa dikunjungi pak ketua BSC. Setelah santap malam satu per satu member2 BSCpun datang dan mengajak kami kembali ke tpt kopdar mereka ditepian pantai sampai jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tak sadar kami karena hari senin telah datang, rekan2 bengkulupun harus kembali bekerja di pagi harinya, sedih karena waktu kunjung kami yg begitu singkat, sedih karena kami harus berpisah dgn rekan2 Bengkulu yg memang sangat bersahabat. Malam itu kami rolling mengelilingi kota Bengkulu dikawal oleh bro Edo (BSC 001) sambil diarahkan kembali ke hotel. Terlelap kami hingga pagipun tiba, tapi apa mo dikata ternyata hujan deraspun menghalangi kami tuk pulang hingga kami harus mengatur ulang jam kepulangan sambil berkunjung ke benteng dan rumah pengasingan Soekarno pada tahun 1938-1942. Tepat pukul 1 siang kamipun akhirnya sepakat tuk kembali ke Jakarta, kawalanpun kembali kami dapatkan sampai digerbang selamat datang Bengkulu. Selamat tinggal kawan, terimakasih atas segala jamuan dan persahabatan yg sudah kalian berikan, kami tunggu kedatangan kalian di Jakarta Selatan (tentunya). Formasi SERSAN (Serius tapi Santai) kami lakukan demi menghemat tenaga tuk kembali menghadapi nikmatnya jalur, pemandangan dan ‘permainan’ dari rekan2 selatan. Target kami hari itu hanya sampai di Bintuhan (kembali kerumah bro sistrian 002) dikarenakan cuaca dan menghindari terjebak di dalam hutan kala malam tiba. Setibanya di Bintuhan setelah 5 jam berkendara, seluruh rombongan kehabisan bensin sehingga kami TERPAKSA membeli bensin eceran dgn harga Rp.6000/ltrnya hingga full. Jengkel memang tp semua itu mendadak hilang dikala sambutan hangat yg kembali kami terima, bro rifki dan bro rignopun langsung menyambar tawaran pijit relaksasi ala bintuhan. Sebelum tidur kami semua sepakat tuk memulai perjalanan pada jam 4 pagi demi menjaga segala kemungkinan terburuk yg mungkin akan kami alami. TENGG…TOONGGGG……,alarm kami berbunyi pertanda kami harus segera bersiap dan bergegas pulang. Dengan muka kusut, kumel dan berantakan, do’a bersama dan perpisahan kami lakukan didepan warnet bro sis. Sampai berjumpa kembali sobat..,kata2 yg kami kira terakhir kami ucapkan, tp ternyata Allah berkehendak lain. Hanya berselang kurang dari 20 menit berkendara ‘musibah’ itupun datang, Bro budi yang memimpin didepan terlena akan sejuknya hawa pagi hingga terjatuh oleh besarnya lobang dan banyaknya Lumpur dijalan. Bergegas kami menghampiri dan membantu, tak ada yg mengira bahwa kecelakaan kecil itu mengakibatkan patah dan bergesernya tulang bahu sang ‘tukang opak’ (nama bekennya di selatan). Kembali kami merepotkan Sis sang tuan rumah tuk datang menjemput. Sekitar setengah jam berselang Sispun datang bersama anggota kepolisian tuk memastikan kami baik2 saja dan segera membawa budi ke dukun urut yg memang tak jauh dari lokasi kecelakaan. Muka suram menerjang seluruh peserta sampai kami harus mengambil keputusan bahwa budi sang ‘tukang opak’ harus pulang menggunakan bis dan motor dipaketkan.singkat kata perjalanan kami lanjutkan dgn tempo yg jauh menurun, tp untungnya hanya berselang 1 jam kamipun bs mendapatkan tempo kami kembali dan mulai melakukan GPRS (Gass Poll Rem Sedikit). Sore menjelang dan Alhamdulillah tibalah kami di Lampung dan segera disambut oleh tuan rumah SLC. Sembari beristirahat beberapa rekan2 selatan sibuk mencari pempek tuk oleh2 sanak keluarga dijakarta. Haripun mulai larut hingga kami harus kembali berpisah dan bergegas pulang. Sekitar pukul 10 malam kami sudah merapat di pelabuhan bakauheni dan segera ‘berkelahi’ dengan opor ayam, rendang dll di restoran padang diluar pelabuhan.mendadak kaget kami dibuatnya karena kami bertemu dengan rekan- rekan Banten Scorpio Club yg juga baru pulang dari turingnya ke palembang. Hanya sekitar ½ jam kami bertukar cerita hingga kami harus berpisah dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.”Sampai jumpa lagi Sumatra…,tak akan berhenti kami menjelajahmu sebelum sampai kami ke nol kilometer” sebuah janji dari rekan rekan selatan yg terucap di kapal fery. Dikapal Ferry pun kami manfaatkan waktu tuk tidur karena besok sebagian member harus sudah mulai masuk kerja (untuk cari modal touring selanjutnya). Tepat di Meraak sudah pukul 2 malam, tanpa lama-lama kitapun langsung gass menuju Jakarta. Tapi yang sebelumnya sudah meminta maaf sama SLOCI karena ga bias mampir dikarenakan keadaan. Sedikit gas sedikit rem (ha…ha…ha…) sampailah di Ciledug dimana ini tempat berpisah untuk ke rumah masing-masing. [for and on behalf of : Dwi Madara - PIC MiLYS chapter Selatan] |